TIM TANGAN

Tips Menulis & Tantangannya

Seringkali setiap kita menemukan sebuah ide dan saat kita ingin menulisnya, tentu ada beberapa tantangan yg harus kita hadapi. Seperti mulai dari mana? Mediasi apa? Siapa pembacanya? Tak punya pengalaman menulis sebelumnya? Dan masih banyak lainnya.

Untuk menulis selain membutuhkan banyak referensi bacaan juga pengalaman sekitar tuk memperkaya khazanah pengetahuan khususnya beberapa bait kata, kalimat, maupun alur cerita. Sehingga tantangan tersebut bisa dikontrol (jangan hilangkan “r” nya)

**Orang boleh pintar setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis ia akan hilang dalam Masyarakat dan dari Sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian** Pramoedya A. T

Jangan khawatir, anda tak sendirian. Hingga saat ini pun, aku masih belajar menulis seperti yg kalian rasakan. Bahkan ketertarikanku dalam dunia tulis-menulis baru dimulai sekitar tahun 2012.

Menulis bagiku adalah sebuah rekam perubahan perjalanan hidup lebih tepatnya perspektif argumentasi yg abadi. Karena perubahan perjalanan itulah, aku ingin mengingatnya sepanjang waktu selain untuk pengembangan diri juga sebagai manifestasi terhadap seluruh keturunanku. Tetapi jika tidak pernah dituliskan maka dengan berjalannya waktu perubahan itu akan terlupakan, bahkan tak pernah dianggap ada. Ibarat, pasangan anda sadar bahwa anda sangat menyayanginya tetapi keberadaan anda dianggap tak pernah ada. Kata zaman now, SAKIT! tapi tak berdarah. Hehhe.

**Menulis adalah suatu bentuk berpikir, tetapi justru berpikir bagi pembaca tertentu dan bagi waktu tertentu. Yang paling penting diantara prinsip-prinsip menulis adalah penemuan, susunan dan gaya dengan cara tertentu**– Angelo

Pernakah kamu berpikir, seberapa pentingnya sih, menulis? Bagiku, sangatlah penting. Kita takkan pernah tahu adanya perkembangan pada setiap zaman, mulai dari zaman pra-sejarah – tulisan di goa-goa, batu, pohon – hingga zaman setiap agama lahir – Kitab-Kitab Suci – jika bukan melalui peninggalan prasasti tulisan-tulisan. Bukankah Kitab Suci berisi tulisan-tulisan penuh makna? Menulis sangatlah penting karena semua pengetahuan kita hari ini bahkan sejak kita lahir ke dunia bersumber dari sebuah tulisan. Bayangkan jika kamu tak punya Akte Lahir (bukti tertulis)? Siapa yg akan tahu, ayah dan ibumu serta asal-muasalmu. Bahkan seorang tuna-netra pun dituntut untuk bisa membaca dan menulis dengan metode mereka sendiri. Jadi, jika kamu bertanya padaku seberapa pentingnya sih, menulis. Aku bertanya balik kepadamu, bayangkan jika tak pernah ada orang yg menulis?

Maka beberapa hal yg harus dilakukan sebelum menulis menurut Fiersa Besari sesuai pengetahuanku ialah :

*Selalu menyiapkan Note dan Pulpen atau Aplikasi Notes dalam Handphonemu*

Ketika kita benar-benar ingin menjadi menulis, kita perlu media untuk merampung segala ide-ide spontan yg datang. Ide bukan lahir hanya pada saat kita sedang berpikir tetapi terkadang datang melalui panca indera kita. Ide juga datang melalui pengalaman orang lain yg kita rekam. Maka kapanpun, siapapun, dan dalam situasi apapun perlunya media untuk menyaring ide-ide awal tersebut.

*Pastikan ada alasan, konflik, dan penyelesaian*

Setelah ide itu kita temukan, kita perlu meninjau lebih jauh alasan, konflik serta penyelesaian pada akhir tulisan kita. Hal ini guna mengembangkan gaya analisis sederhana sehingga kita mulai menyadari telebih dahulu hal apa yg ingin dimuat dalam tulisan kita. Rumus untuk memecahkan hal ini adalah 5W1H (What, When, Where, Who, Why, How) Apa, Kapan, Dimana, Siapa, Kenapa dan Bagaimana. Dasar-dasar jurnalistik.

*Riset*

Riset dan Tulisan ialah dua hal yg tak terpisahkan, ibarat 2 sisi koin, tanpa satu sisi maka yg lain tak bermakna. Riset adalah penulisan yg berkembang agar pesan yg disampaikan menjadi bernilai. Riset juga tak terpisah dari seringnya membaca. Seperti pepatah, jika buku adalah jendela dunia, membaca ialah melihat dunia tersebut, riset dalam penulisan ialah bagaimana membingkai dunia, sementara mbah Google sebagai Kendaraannya. Bisa dipahami? Kalau tidak juga, sy tak peduli. hahaa

*Matikan (silent) ponsel,*

Jika ditambahkan poin ini maksudnya ialah kita perlu fokus pada satu hal. Pada dasarnya ketika seseorang sedang menulis, ia sedang berada dalam dunianya sendiri maka saat bersamaan ketika ada yg “mengganggu” pikirannya. Semua titik fokus sirnalah sudah. Hal inilah yg seringkali menjadi problematika seorang penulis, salah satu penyebabnya adalah memainkan HP (chat group, pasangan, dlsb) yg membuat ide tak menjadi tulisan, tulisan justru mengambang di awan-awan – kalau ngambang di Kali, itu…(bayangkan sendiri. Aku sih ngeri!)

Jadi, buat istriku. bukannya aku lama balas chat dari kamu? Tapi karena akunya sedang nulis aja, nulis kata Hai.. ke wanita yg mencoba menguji ke-tam-vana-an dan ke-setia-anku. Hehhe, Cuma bercanda.

*Jangan memikirkan apa yg bagus & apa yg buruk secara berlebihan*

Biasanya saat sedang menulis, kita selalu terpaku pada kalimat diksi. Kita khawatir setiap kata, kalimat, maupun paragraf bukan kata yg tepat atau benar seperti yg kita harapkan. Dan benar, bahwa kalimat yg diksi adalah kalimat yg paling ditakuti sebagian besar penulis apalagi sebagai pemula sepertiku. Tetapi jika ini hanya menjebak, perlambat dan pengaruh yg buruk untuk kita berkarya khususnya penulis maka sebaiknya tidak perlu kita memulainya. Intinya, mulai saja dahulu persoalan bagus atau buruk pastinya kan kita evaluasi kembali. Setelah kita merasa bahwa pesan dari tulisan kita telah rampung (sesuai keinginan)

*Berhenti menjadi editor untuk diri sendiri*

Poin ini masih berhubungan dengan poin sebelumnya. Seolah ada 2 pekerjaan yg kita lakukan secara bersamaan. Penulis & Editor Penulis harus saling bekerja sama agar menghasilkan sebuah mahakarya tulisan, tetapi dalam suatu bidang pekerjaan tetaplah mereka berbeda. Editor itu semacam pembimbing bagi penulis. Ide dan gagasannya kamu yg tentukan. Sebab itu karyamu, ia hanya perlu revisi mana yg menurutnya harus ditambahkan atau dikurangi pada setiap tulisanmu.

*Terkena Writers Block*

Buntunya ide ketika sedang menulis adalah penyakit umum setiap para penulis. Apalagi setiap penulis baru (termasuk saya sendiri) pasti selalu takut akan hal ini, bahkan belum memulainya saja kita sudah parno dibuatnya sebab WB datang karena kita terlalu memaksakan otak untuk terus-menerus berpikir.. Tetapi jangan khawatir sebab Writer’s Block (WB) bukan hanya tuk pendatang baru bahkan Penulis Hokage seperti Tan Malaka, Soe Hok Gie, Pramoedya, Buya Hamka, Habiburrahman El-Shirazy, Dewi Dee Lestari, Tere Liye, Raditya DikaEh! Dia Komedian & Conten Creator – pasti pernah mengalaminya.

Intinya ketika diserang penyakit WB ini obatnya hanya berhentilah sejenak tuk berpikir tentang tulisanmu, otakmu perlu istirahat. Pergi dan lakukanlah hal-hal yg bisa membuatmu nyaman dan bahagia. Karena secara tak terduga, kau kan sembuh dengan sendirinya.

*Jangan malas untuk membaca kembali dari awal*

Menjadi penulis secara tidak langsung harus mau menjadi pembaca. Selain pembaca pertama dalam karyamu sendiri, juga wajib penikmat bacaan yg lain. Karena kosa-kata sangat diperlukan sebagai bahan pengembangkan tulisan. Dan dari sinilah proses editorial secara manual mulai dilakukan. Sehingga kita bisa menilai dimana kalimat yg kurang atau mungkin berlebihan, salah ketik, bisa diperbaiki.

*Proses pengendapan*

Aku belum mengerti proses ini, karena sejauh pengalamanku sebagai penulis blogger mungkin belum sampai pada tingkatan ini. Namun sy berusaha memahaminya. Bahwa pengendapan barangkali sebagai suatu titik waktu dimana kamu sudah benar-benar yakin bahwa inilah hasil karya tulisanmu. Sehingga kalaupun ada perubahan alur cerita atau punya kesinambungan untuk karya tulismu selanjutnya. Seperti Part 1 seterusnya. Sehingga ada hal baru yg bisa dikembangkan.

*Membaca karya tulismu pada orang-orang sekitar lingkunganmu*

Hal ini perlu dilakukan dan syarat utamanya ialah jangan ragu/malu. Sebab melalui tanggapan pendengar karya tulismu. Barangkali bisa sebagai bahan evaluasimu, mana alur cerita yg baik maupun yg buruk karena yg menarik maupun yg monotonn menurut kita, belum tentu sama menurut orang lain. Dari poin ini juga kita bisa menilai sasaran alur cerita tulisanmu berakhir dimana?

*Mengirim karya tulisanmu pada penerbit/share di media sosial*

Poin ini adalah langkah akhir & nasib dari karya tulisanmu – selain menjadi ungkapan rekam argumentasi abadi yg terwujud – rumusnya yg penting jangan pernah ragu ataupun malu. Jika nasibnya membuahkan hasil artinya proses menulismu tidaklah mudah dan bias dari kerja kerasmu selama menulis. Jika belum, yaah aku tak tau apa masalahmu? Hehe.



Akhirnya, jika ditambahkan Tips menulis oleh Fiersa Besari ke dalam versiku, diklasifikasikan secara berurutan sesuai kode tiga jenis hukumnya yaitu Wajib (W); Saran yg sangat dianjurkan (SA); dan Saran dianjurkan tapi tak terlalu ditekankan (SAT).

1.      Siapkan Note & Pulpen atau Aplikasi Notes HP (W);
2.      Riset (W);
3.      Pastikan alasan, konflik dan penyelesaian (W);
4.      Jangan pikir yg bagus maupun yg jelek secara berlebihan (W);
5.      Matikan HP (SA);
6.      Berhenti jadi editor untuk diri sendiri (SA);
7.      Jangan malas membaca kembali dari awal (SA); dan
8.      Mengirim karya tulismu ke penerbit, baik media cetak maupun media sosial (SAT).

Sementara untuk dua poin lainnya yaitu proses pengendapan (SAT); dan Jangan malu membaca karya tulismu pada orang sekitar (SAT). Menurutku, agak paradoks jika disandingkan dengan poin (3), (4) dan (8), karena setiap orang punya perspektif baik dan buruk yg berbeda-beda sehingga dikhawatirkan mempengaruhi alur cerita yg ingin kita sampaikan ke dalam tulisan kita.

Terakhir, persoalan mendapatkan penghasilan dari sebuah karya tulis, sekiranya sebuah tulisan, jika ia tak pernah diungkapkan maka apa gunanya menulis? Bukankah tulisan ialah bagian dari Adanya Dirimu dan Keabadian?

Seperti ungkapan filsuf Perancis, Descartes. “Cogito Ergo Sum” – Aku Berpikir, Maka Aku Ada – Penulis pun ada filosofisnya yaitu “Aku menulis, maka Aku ada untuk Keabadian”, sekaligus mematahkan lagu Noah “Tak Ada Yang Abadi”.


Link Youtube Fiersa Besari : https://www.youtube.com/watch?v=juf0-suokik&list=WL&index=2&t=371s

Comments

Popular posts from this blog

JANGAN MALU

SI LEMON

API & MASA