TOPI BUSI
"Tokoh Inspiratif"
Ibu Susi Pudjiastuti
agak sakit mata dan otak saya ketika membaca komentar perihal sosok Ibu Susi Pudjiastuti yang merokok di Istana. "Merokok depan umum? Oh pantes, wong lulusan SMP"
Ibu Susi Pudjiastuti
agak sakit mata dan otak saya ketika membaca komentar perihal sosok Ibu Susi Pudjiastuti yang merokok di Istana. "Merokok depan umum? Oh pantes, wong lulusan SMP"
Ada gagap logika yang amat parah dalam kalimat ini, tapi tentu saja tidak perlu membahas orang bodoh, karena terlalu banyak orang bodoh di dunia ini dan terlalu sedikit juga orang seperti ibu susi, berempati, ulet, dan cuek.
Ibu susi mengingatkan saya pada sosok pembaru politik Inggris Winston Churchill, ia adalah orang yang paling masa bodoh dengan apapun yang tak berkaitan dengan dirinya atau bangsanya.
secara singkat Churchill adalah pragmatis, keras dan dalam kadar tertentu fasis. anda bisa membaca bagaimana ia dengan kejam memperlakukan para pembencinya dengan kerja-kerja nyata bahkan mustahil di lampaui oleh perdana menteri lain setelahnya. Dalam bukunya Churchill's Cigar : A Lifelong Affair Through War and Peace. Anda bisa melihat bagaimana cerutu menjadi titik sentral pada sosok Churchill.
Buku itu menceritakan bagaimana pada saat-saat paling genting Perang Dunia II, cerutu Churchill menjadi katalis penting dalam pengambilan keputusan. Stephen McGinty, sang penulis, menempatkan cerutu sebagai napas yang mangatur narasi kehidupan Churchill.
tentu kita bisa berdebat panjang tentang apa guna cerutu bagi peradaban dunia. apalah artinya Pramoedya tanpa kreteknya? tapi sekali lagi, tulisan ini dibuat bukan soal kretek, cerutu, ataupun dampak rokok bagi kesehatan kita.
Churchill adalah seorang negarawan yang cukup terkenal membuat Inggris begitu disegani di Perang Dunia Kedua. Saya melihat ada kharisma serupa pada sosok Ibu Susi. Bukan, Bukan karena ia bersuamikan ekspatriat Jerman. Tapi karena ibu Susi dan Churchill sama-sama pejuang dan penyintas yang tangguh. Churchill berkali-kali gagal sekolah, nilainya hancur, namun lebih karena si mulut pedas ini menyimpan obsesi di bidang militer. Terbukti setelah tiga kali gagal sekolah militer, pada percobaan ke empat ia diterima dan kemudian menjadi perwira militer.
Ibu Susi adalah orang yang memiliki prioritas dalam hidup. Ibu Susi jelas memiliki beban ganda. sebagai perempuan yang hidup dalam peradaban patriarkis dan misoginis, ibu Susi jelas sering diremehkan kerena jenis kelaminnya, tapi kita tahu bagaimana ia menjalani hidup. Ibu Susi bekerja dengan taktis membangun empirium bisnisnya. Anda bisa sebut ia sebagai kapitalis borjuis, tapi borjuis tak pernah terlahir miskin, sementara kapitalis tak punya empati sosial.
Beberapa hari ini, ruang publik kita di ributkan lantaran jenjang pendidikan ibu Susi. Tentu akan susuah membuat orang di tampar pesona jenjang pendidikan untuk bisa bekerja dengan perempuan lulusan SMP, tapi pengalamannya bekerja sebagai pengusaha perikanan dan transportasi, dengan daya jelajah lebih panjang dari otak kebanyakan penduduk negeri ini, ibu Susi akan dengan mudah mempermalukan kita pengetahuan kita tentang kondisi geografis, sosial-budaya, politik dan ekonomi kemaritiman nusantara. Dan juga mengenai norma kesopanan, yang sudah kepalang brengsek membuat negeri ini tunduk pada prilaku munafik penuh kebohongan.
Ibu Susi adalah cermin raksasa yang menunjukan betapa kita sebenarnya adalah kaum yang menjijikan. tampil sopan hanya karena ingin dianggap beretika, bukan karena ketulusan. Tampil relijius hanya karena dianggap beragama, bukan karena keimanan. Maka ibu Susi yang datang dari kolong langit paling pelosok, nusantara terkaget-kaget dengan sosok perempuan yang masa bodoh dengan kepalsuan itu.
bertambah satu lagi tokoh inspiratif bagi saya secara pribadi tentunya, selain Soekarno dengan ide-ide nasionalisnya dan Gus Dur dengan Pluralismenya. saya mendambakan sosok ibu Susi sebagai konservatif yang sempurna, keras, penuh strategi, pragmatis dan berorientasi pada kemakmuran negeri ini.
Churchill adalah contoh paripurna dari gambaran kaum konservatif Britania. Ibu Susi adalah pengusaha, poin penting tentunya. Dengan pengalamannya sebagai pengusaha, ia bisa mengukur untung-rugi, kebijakan, dan keputusan-keputusan penting yang mesti diambil untuk negara pastinya. ini jauh lebih penting daripada sekedar berpenampilan menarik, santun atau bahkan relijius.
Toh, tiap kali KPK menangkap Koruptor, tiap-tiap tersangka selalu mendadak relijius, bukan?

Comments
Post a Comment